JAMBI--MICOM: Harimau Sumatra atau Panthera Tigris Sumatrae di Provinsi
Jambi semakin terancam punah akibat makin maraknya alih fungsi lahan di daerah
itu dengan jumlah populasi saat ini tinggal 250-300 ekor. Direktur Komunitas
Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi, Rakhmad Hidayat di Jambi, Minggu (1/4),
mengatakan jumlah populasi harimau Sumatra di Provinsi Jambi diperkirakan
antara 250-300 ekor.
"Dari jumlah itu 125 ekor di
antaranya berada di kawasan taman nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang
membentang antara Provinsi Jambi, Sumatra Selatan dan Bengkulu," ujarnya. Meski sebagian besar berada di kawasan hutan
lindung, kondisi itu tidak menjamin keberlangsungan hidup harimau Sumatra bisa
aman, mengingat semakin hari kawasan hutan di Jambi terus tergerus akibat alihfungsi
lahan menjadi perkebunan atau perumahan.
Dia mencatat, selama periode 2011
terdapat lima kasus besar konflik masyarakat dengan satwa. Diantaranya adalah
munculnya beberapa ekor harimau pemangsa di daerah pemukiman masyarakat salah
satunya di daerah Bayung Lincir. Diduga
kuat kawanan harimau tersebut keluar dari Taman Nasional Berbak (TNB) akibat
terus berkurangnya habitat harimau di kawasan tersebut.
Warsi juga mencatat dua harimau
Sumatra mati tersengat listrik di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. "Tidak
hanya habitat harimau, konflik dan alih fungsi lahan juga mengancam habitat
gajah Sumatra. Hampir setiap tahun konflik masyarakat dengan gajah terus
berlanjut," jelasnya. Terkait hal itu, Rakhmad sangat berharap baik
pemerintah pusat maupun daerah bisa lebih memperjelas dan tegas dalam
menerapkan aturan pengelolaan kawasan hutan. "Jadi, pengelolaan sumber
daya alam yang membabi buta tidak hanya akan menimbulkan konflik di masyarakat,
namun juga bahaya bagi habitat satwa. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa
ada penanganan konkret diperkirakan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan
populasi harimau Sumatra khususnya di Jambi bisa punah," tambah
Rakhmad.(Ant/X-12)
Sumber: http://www.mediaindonesia.com

