Friday, August 5, 2011

Menjaga Kawasan ”Siaga Satu” Hutan Sumatera

Muhammad Farid*

”Key Biodiversity Areas dapat dijadikan alat memacu semangat kemitraan dalam mengupayakan konservasi di tingkat lapangan”

Hutan sebagai rumah bagi satwa liar dan keanekaragaman hayati lainnya lambat laun melenyap. Penyebab penurunan luasan hutan sangat terkait  dengan praktek konversi hutan untuk tujuan perkebunan, tambang, konsesi pembalakan, pembangunan jalan dan pembangunan infrastruktur lainnya. Di samping itu kegiatan pembalakan liar dan kebakaran hutan termasuk pula penyebab utamanya. Berbagai pihak pada dasarnya mempunyai alasan dan pendekatan masing-masing untuk memenuhi tujuannya dalam memanfaatkan hutan. Akibatnya banyak tutupan hutan yang menjadi korban. Dan sejalan dengan itu maka musnah pulalah fungsi ekologis hutan sebagai rumah satwa, penyedia air dan udara bersih yang menjadi sumber penderitaan manusia. 


Penebangan kayu ilegal yang mengancam hutan Sumatera

Fragmentasi habitat terutama di Sumatra menjadi bukti kasat mata  yang menyebabkan standar minimum dynamic area bagi jenis payung (umbrella species) seperti gajah dan harimau yang tidak terpenuhi lagi dan menghasilkan konflik manusia dan satwa liar. Buktinya  sudah dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Sumatra. Conservation International dan Wildlife Conservancy Society (2007) memperkirakan laju deforestasi selama sepuluh tahun dari 1990 hingga 2000, mencapai lebih dari 5 juta hektare.

Nampaknya keharmonisan alam dan manusia sudah mulai pudar. Kebanyakan orang menyalahkan perencanaan pengelolaan hutan yang tidak berbasis ekosistem di Sumatra sebagai gudang keanekaragaman hayati belumlah optimal.  Padahal negara kita merupakan negara penandatangan Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) yang berkewajiban menjaga keberlangsungannya.

Menyadari pentingnya masalah ini, Conservation International bekerjasama Departemen Kehutanan dan mitra yang lain, melakukan upaya konservasi keanekaragaman hayati melalui analisis prioritas kawasan yang harus dilindungi. Tentu saja pendekatan ini berbasi pada sains konservai yang valid.  Selama dua tahun, CI dan para mitranya mengumpulkan data-data acuan terutama tentang status spesies yang sudah masuk dalam kategori Red Data Book IUCN, kemudian mendelineasi habitatnya yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Kunci Keanekaragaman Hayati (Key Biodiversity Areas-KBA). 

Status hutan yang masih tersisa di Sumatra yang bisa dikatakan termasuk ”siaga satu” berhasil didelineasi sebanyak 62 KBA dengan luas kawasan yang akan terselamatkan yaitu 6,2 juta ha termasuk 155 jenis satwa liar yang hampir punah. Hasil deliniasi dibuat dalam bentuk peta KBA yang user friendly dan selanjutnya dapat membantu dalam penyusunan rencana tata ruang dan mengerem kerusakan habitat hidupan liar di Sumatra. Menyadari bahwa hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya merupakan modal pembangunan di masa mendatang, maka KBA ini memiliki misi menyelamatkan fungsi ekologis hutan dan isinya (terutama jenis tersisa) dan membuat koridor antar habitat terfragmentasi.

Lalu bagaimana menggunakan peta KBA ini? Peta KBA dapat dimanfaatkan oleh semua pihak termasuk legislatif, eksekutif, pengusaha, LSM, Perguruan Tinggi, mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum.  KBA ini menjadi alat untuk membumikan semangat partnership dalam menjaga kelangsungan hutan dan isinya.  Dari 62 KBA yang ada, 40% diantaranya sudah menjadi kawasan konservasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan sisanya belum memiliki status legal sebagai kawasan konservasi. Ini berarti kawasan-kawasan tersebut memiliki resiko yang besar untuk terdegradasi.  Sehingga terbuka peluang dalam menerapkan semangat kemitraan dalam menjaganya. Secara teknis langkah-langkah yang sebaiknya ditempuh dimulai dari kegiatan sosialisasi kepada multistakeholder di satu kawasan. Kemudian langkah berikutnya multipihak menjadwalkan agenda konservasi bersama berbasis KBA pada kawasan tersebut.

Untuk pelaksanaan pemantauan atau monitoring tentu saja diperlukan kelompok kerja tertentu di pemerintah daerah atau propinsi terutama dalam sinkronisasi rencana pembangunan dan konservasi di daerah tersebut. Kegiatan monitoring juga menyangkut pemanfaatan positif dari jasa lingkungan seperti ekoturisme, jasa hidrologi dan jasa penjualan karbon melalui Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). Dengan cara seperti ini, diharapkan keanekaragaman hayati dapat tetap lestari di masa mendatang sekaligus, dengan harapan juga bahwa kita mampu membuktikan: manusia dan alam dapat hidup secara harmonis. 

*) Muhamad Farid adalah Environment Policy Specialist
READ MORE - Menjaga Kawasan ”Siaga Satu” Hutan Sumatera

Enam Puluh Ribu Pohon Untuk Harimau Sumatra

60 ribu pohon untuk Harimau Sumatera

Oleh Alex Pangestu  | 12-08-2010 |



60 ribu pohon untuk Harimau Sumatera
Saat ini, sudah hampir 60 ribu pohon terkumpul untuk restorasi habitat Harimau Sumatra. Jumlah pohon ini diperkirakan akan terus bertambah di masa yang akan datang.

Pohon-pohon tersebut terkumpul berkat kompetisi "Sahabat Hutan" yang digelar WWF-Indonesia dan WWF-Jerman yang telah memasuki tahap ketiga. Pada tahap ini keenam finalis telah dibagi menjadi tiga tim. Setiap tim berisi 1 peserta dari Indonesia dan 1 peserta dari Jerman.

Kompetisi ini memanfaatkan situs web jaringan sosial sebagai ajang para peserta menyuarakan kepedulian mereka terhadap keanekaragaman hayati dan konservasi hutan. “Lewat blog yang mereka bangun bersama dan perbarui secara berkala, para finalis mengajak pendukungnya untuk berkontribusi langsung mendukung upaya rehabilitasi hutan habitat Harimau Sumatra,” kata Desmarita Murni, Koordinator Komunikasi Program Hutan, Spesies dan Air Tawar WWF-Indonesia.

“WWF melihat maraknya penggunaan jejaring sosial, khususnya di kalangan usia muda, sebagai sebuah kesempatan positif untuk menyampaikan berbagai pesan pelestarian alam, termasuk rehabilitasi hutan. Kami melihat jejaring sosial memungkinkan komunikasi ke seluruh dunia secara real-time, cepat, dan menyenangkan,” jelas Dr. Efransjah Direktur Eksekutif WWF Indonesia pada siaran pers yang National Geographic terima.

Dukungan terhadap finalis akan diwujudkan dalam dunia nyata. Artinya, bakal lebih dari 60 ribu pohon akan ditanam demi memperbaiki habitat Harimau Sumatra. Kompetisi yang berlangsung sejak akhir Mei 2010 ini akan berakhir pada Agustus 2010. Pemenang akan mewakili Sahabat Hutan untuk berkunjung ke Taman Nasional Tesso Nilo Riau dan kawasan konservasi hutan dan air tawar di Schaalsee, Jerman.
READ MORE - Enam Puluh Ribu Pohon Untuk Harimau Sumatra